KH. Drs Rosyidin Ali Said: Menjadi Shaleh Saja Tidak Cukup

Published on

Penulis

Share Article

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Al-Ustadz K. Muhammad Rizqy Nawwari, M.A

“Menjadi orang shaleh saja tidak cukup”, begitu tulis ayahanda, KH. Drs. Rosyidin Ali Said dalam i’dad pidatonya. Sebagaimana yang sering beliau tuturkan dalam pidato-pidatonya, beliau seringkali mengungkapkan bahwa seorang mu’min harus terus memiliki kesyukuran yang tinggi terhadap nikmat Allah, salah satunya dengan terus menjaga dan meningkatkan ilmu pengetahuan sebagai hidayah dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Pondok Modern Al-Barokah menunjukkan kesyukurannya dengan menjaga nilai melalui dakwah dan Pendidikan yang berorientasi kepada pembinaan diri, dan islah umat dan bangsa ini.

Selanjutnya Bapak berpesan, “Menjadi santri tidak cukup menjadi generasi yang Shaleh, hanya bermodalkan kesulukan atau hanya menjadi orang baik, tetapi, santri harus menjadi generasi Mushlih“. Al-Barokah mendidik santrinya untuk menjadi Mundzirul qaum, yakni menjadi penerang, pemberi peringatan, pendidik, pengawal umat, dan pelorus yang bengkok dalam segala aspek kehidupan di masyarakat. Dengan kata lain, orientasi Pendidikan di pondok ini adalah menggembleng santri-santrinya untuk menjadi Da’i, Ulama, yang terus melestarikan nilai-nilai kebenaran dan kebaikan. Pola kehidupan, dan system Pendidikan pondok modern didesain untuk membentuk karakter pemimpin yang memiliki bekal ilmu pengetahuan dan mental yang kuat, dengan harapan, santri-santri pulang dan menjadi kader pemimpin umat yang berkhidmah kepada masyarakat dengan menanamkan nilai dan jiwa pesantren.

“Menjadi santri tidak cukup menjadi generasi yang shaleh, hanya bermodalkan kesulukan atau hanya menjadi orang baik, tetapi, santri harus menjadi generasi Mushlih

KH. Drs. Rosyidin Ali Said

Perjuangan dalam pendidikan merupakan cara yang dipilih pondok pesantren untuk membina generasi penerus Rasulullah untuk menegakkan panji-panji Islam. Maka kader-kader umat perlu disiapkan dalam tafaqquh fiddin agar siap untuk dibentuk menjadi ulama yang intelek. Integrasi ilmu pengetahuan dan Dirasah Islamiyyah ditambah dengan penguasaan Bahasa Arab dan Inggris dalam kurikulum utuh Kulliyatul-Mu’allimin Al-Islamiyyah menjadi syarat mutlak untuk pengembangan wawasan, tsaqafah santri, dengan harapan, Pendidikan di pondok ini dapat membentuk santri menjadi teladan masyarakat dengan kekuatan ilmu, wawasan yang luas, akhlak mulia, dan produktivitas dalam Khidmah-nya pada masyarakat.

Dai dan pendidik yang dibentuk dalam sistem Kulliyyatul Mu’allimin Al-Islamiyyah dibentuk untuk menjadi mushlih (yang memperbaiki), tidak hanya berhenti menjadi orang yang shalih untuk dirinya sendiri. Sehingga setiap individu seorang pendidik memiliki kewajiban untuk menyampaikan dan menguatkannya dengan bertawakal kepada Allah swt, karena sejatinya manusia tidak mampu membuat orang lain untuk mendapatkan petunjuk, tetapi semua atas kehendak Allah. Pepatah Even the best can be improved, artinya meski sudah menjadi yang terbaik masih bisa diperbaiki. Santri yang datang ke pondok memiliki niat dan ingin menjadi anak yang naik, proses yang dibentuk dalam system juga terus berkesinambungan.

Setiap santri yang masuk ke Al-Barokah harus siap dibina, dikembangkan, dibentuk, dan diarahkan untuk menjadi lebih baik lagi. Sebagaimana visi Pondok pesantren yang hadir di tengah masyarakat untuk sebagai agen perubahan, perbaikan, perbaikan system Pendidikan, perbaikan pembinaan generasi muda, dan perbaikan masa depan bangsa dan umat Islam. Maka pola Pendidikan di pesantren modern mengharuskan santri-santrinya agar siap untuk diperbaiki agar terus menjadi baik.

Jiwa sebagai The Agent of Change tidak cukup hanya dimiliki pesantren sebagai Lembaga, tetapi juga harus dimiliki oleh setiap santri yang ada di dalamnya. Maka kesiapan santri untuk menerima arahan, Pendidikan, nasihat, dan pelajaran yang diberikan para kyai, masyayikh, guru-guru, dan system pola kehidupan di pesantren merupakan kunci bagi santri untuk menjadi mundzirul qaum,manusia yang Shalih dan meningkat pada taraf mushlih saat kembali ke masyarakat di masa yang akan datang.

(Disarikan dari lembaran i’dad pidato ayahanda KH. Drs. Rosyidin Ali Said)

 

 

 

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp